Pages

Jumat, 02 November 2012

Kronologi Part#1


Aku memang pemimpi. Aku memimpikan banyak hal, mulai dari mimpi yang masuk logika hingga mimpi yang berpotensi mendapat cibiran banyak orang. Sebelumnya perkenalkan, namaku Sofyani Wulansari dan kalian bisa memanggilku Sofy. Aku berasal dari sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur. Sejak kecil, aku hidup dan tumbuh di tengah lingkungan pedesaan. Orangtua ku bukanlah orang yang kaya raya namun aku bersyukur mereka adalah orang yang kaya hati. Mereka masih mau menyempatkan diri membantu orang lain yang lebih susah hidupnya dari mereka. Bapak hanyalah seorang peternak sapi yang penghasilannya pun tidak menentu, tergantung harga sapi di pasaran. Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sejak awal, orangtuaku sudah memberitahu ketiga anaknya, bahwasannya mereka hanya sanggup untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang sekolah menengah atas. Kakak perempuanku bisa menerima hal ini, namun berbeda denganku. Dan adik laki-laki ku? Dia masih ingusan waktu itu, hingga masih mengiyakan saja tanpa mengerti apa artinya. Aku tentu menolaknya dengan keras, karena jelas berita ini adalah hal yang bertentangan dengan cita-citaku sejak kecil. Aku ingin menamatkan pendidikanku sampai jenjang universitas.

Pada awalnya banyak yang berpendapat bahwa keinginanku tersebut merupakan sesuatu yang mustahil, karena mereka saja yang memiliki banyak simpanan uang di bank, punya tanah warisan, bahkan punya rumah yang lebih besar dari rumahku, tidak sanggup menyekolahkan anak mereka hingga ke universitas. Biaya kuliah itu tidak sedikit, ini adalah fakta dan aku pun tidak mengingkarinya. Bisa apa, orang yang hanya bekerja sebagai peternak sapi dibandingkan yang memiliki berpetak-petak sawah? Lupakah mereka akan Dzat yang Maha Memiliki Segalanya? Dialah Allah, yang ketika Dia menghendaki sesuatu terjadi pada hambaNya, maka tak ada satu aral pun yang mampu mencegahNya.

Berbekal keyakinan pada Sang Khalik itulah, kemudian dating sebuah pertolongan. Melalui perantaraNya, mereka adalah sepasang suami istri yang sedang mencari anak SMA yang memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas namun memiliki kendala finansial. Mereka adalah Bapak dan Ibu Burhan yang sekaligus tetangga wali kelasku sewaktu SMA kelas satu. Hingga dipertemukanlah kami, dan aku bisa tersenyum lega karena keinginanku terkabulkan. Ya! Aku memiliki kesempatan untuk meneruskan sekolahku hingga S-1 karena mereka akan membiayainya. Betapa Allah tidak tidur, dan Dia sebaik-baik pengatur rencana.

Mengapa aku ceritakan semua ini diawal? Karena cerita ini adalah inti dari kisahku. Kisah seorang anak desa yang bermimpi sederhana, ingin menjadi sarjana pertama di keluarga besarnya. Juga agar kau mengerti, siapapun dirimu, kau berhak untuk bermimpi!

Singkat cerita, aku diterima melalui jalur SNMPTN tahun 2009 di Universitas ternama di Kota Malang. Aku mengambil jurusan Statistika, karena kau tahu? Pak Burhan adalah seorang kepala Badan Pusat Statistik (BPS) dan dia menginginkan aku untuk mengambil jurusan ini. Lantas apakah aku tertekan dan kemudian menyesal karena masuk jurusan yang bukan kehendakku? Awalnya iya, tapi sekarang aku tahu bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang terjadi sia-sia. Sama halnya dengan hukum sebab-akibat. Hal yang terjadi di masa lalu mengakibatkan hal lain yang terjadi di masa mendatang. Dan kamu tidak akan pernah sanggup untuk ber-adu matematika dengan Sang Khalik. Sekali-kali kamu tidak akan pernah tepat dalam mengkalkulasikan segala urusanmu. Begitu pula ketika aku mengalami kegagalan di suatu mata kuliah yaitu Rancangan Percobaan (Experimental Design), aku mendapat nilai yang amat mengecewakan sehingga mengharuskan aku untuk mengulangnya di semester lima bersama adik angkatan. Malu? Tentu iya. Tapi tunggu dulu, justeru karena keputusanku untuk mengulang mata kuliah inilah, aku membuka gerbang untuk bisa menginjakkan kakiku di Negeri Paman Sam.

Suatu pagi, aku dan mahasiswa lain yang akan masuk kelas Rancangan Percobaan, terpaksa menunggu agak lama karena kelasnya masih digunakan oleh mahasiswa jurusan Matematika. Bosan menunggu, aku berjalan mendekati mading jurusan. Melongok siapa tahu ada info terbaru tentang apapun, segera aku menghampiri kolom khusus jurusan Statistika dan aku tidak menemukan apapun disana. Seketika aku melirik kertas berukuran besar yang ditempel di sebelah kolom jurusan Ilmu Komputer, kolom tersebut memang khusus untuk info-info bebas di luar info jurusan. Kertas besar ini berwarna mencolok, dengan beberapa gambar muda-mudi yang sedang berfoto di suatu tempat yang seketika aku tahu bahwa tempat itu adalah suatu tempat di luar negeri. Aku selalu pasang alarm ketika bersinggungan dengan kata luar negeri. Karena, sejak masih di sekolah dasar, aku membayangkan beberapa negara di luar Indonesia yang aku hafal nama ibukotanya melalui pelajaran IPS. Dan aku juga masih ingat pernah memiliki kaos butut yang diberi tetangga yang bergambarkan beberapa jembatan tersohor di dunia, salah satunya adalah Golden Gate yang ada di San Fransisco Amerika Serikat. Aku sangat mencintai kaos butut ini, sering kupakai kemana-mana.

Kertas besar itu berisi pengumuman diselenggarakannya beasiswa belajar intensif bahasa Inggris dan budaya Amerika di Amerika Serikat selama 8 pekan. Nama beasiswa tersebut adalah Indonesia English Language Study Program (IELSP) yang disponsori oleh U.S Embassy dan dikelola oleh Yayasan IIEF. Segera aku keluarkan buku saku berwarna kuning dan bolpoin dari tas, aku catat semua persyaratan dan segala macam info yang ada disana dengan cepat karena sebentar lagi aku harus masuk kuliah. Kuabaikan beberapa sapaan dari teman-teman jurusan Matematika yang baru saja keluar kelas. Aku fokus pada buku saku kuningku dan kertas besar itu.

Deadline pengumpulan berkas-berkas beasiswa IELSP adalah 18 Nopember, dan saat aku pertama mengetahui pengumuman di kertas besar terhitung sudah tanggal 2 Nopember. Artinya, aku hanya memiliki sisa waktu sekitar dua minggu untuk mempersiapkannya. Waktu yang sangat singkat ini tidak lantas menjatuhkan mentalku, justeru aku semakin terpacu untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan mulai dari dokumen-dokumen penting seperti ijasah SMA, tes TOEFL, esai-esai, sampai surat rekomendasi dari dosen. Di tengah mempersiapkan itu semua, aku juga harus tetap memperhatikan kuliahku yang sudah memasuki masa-masa menjelang ujian akhir semester. Dimana pada masa-masa seperti ini, tugas akan semakin menggunung hingga akupun jarang tidur karenanya. Beruntungnya aku yang memiliki orangtua dan saudara yang terus menyemangatiku. Apalagi ibu, dukungan beliau sangat berarti. Setiap kali aku mulai menyerah, beliau selalu menemani dan memberikan semangat. Beliau berkata, bahwa untuk mencapai keinginan kita, harus selalu ada yang dikorbankan entah itu pikiran, tenaga, maupun waktu. Karena tidak ada magic yang berlaku pada sebuah mimpi, tidak akan bereaksi kata bim-salabim pada yang namanya mimpi.

4 komentar:

Muchtar mengatakan...

Keren ibunya. . . modis abis.

Sofyani Wulansari mengatakan...

she is more than just mom, she is my friend and my everything

Muchtar mengatakan...

ahaha, koyo lagu

Sofyani Wulansari mengatakan...

lagu bebestar, my love my mom my everything *apa-apaan*

Posting Komentar