Pages

Rabu, 31 Oktober 2012

Makanan Indonesia



Aku baru menyadari bahwa tak ada makanan yang bisa menandingi enaknya makanan Indonesia. Lidah ini rasanya kurang cocok dengan makanan negara lain. Hal ini pernah aku rasakan selama di Amerika sana. Pertama kali datang ke negeri orang, dan ketika saatnya makan tiba aku dan teman-temanku datang ke dining hall terdekat dengan asrama. Pada saat itu sedang puasa Ramadhan dan kami berniat membungkus saja makanan itu untuk buka puasa. Sebab, buka puasa disana sekitar pukul 8 malam, sementara dining hall tutup jam 7 malam. Disamping itu, mereka menawarkan 2 pilihan kepada mahasiswa disana yang akan makan: for here (makan di dining hall) dan to go (dibawa pergi). Ketika kami memilih "to go, please" maka petugas dining hall yang menjaga pintu masuk akan memberi kami satu kotak makan terbuatdari stereofom dan satu bowl yang memiliki tutup dan terbuat dari bahan daur ulang.


Pertama datang, dan dalam keadaan tidak sahur paginya karena tidak berhasil menemukan makanan saat sahur (tentu saja, mana ada dining hall buka jam 5 pagi), akupun berharap banyak di dining hall ini. Tempatnya sangat luas, banyak station yang menawarkan aneka makanan. Ada station khusus salad, chicken and meat, fruits, mexican food, soup, cookies, ice cream, waffle, dan lain sebagainya. Seiap harinya, mereka akan menawarkan menu yang hampir sama di tiap harinya hanya saja pada station tertentu misal chicken and meat, mereka akan membuat variasi kadang diganti dengan fish dan lainnya. Yang paling penting di negara orang adalah, jangan sekali-sekali menjadi orang yang sok tahu. Maksudnya disini, kalian tidak bertanya tentang makanannya lantas langsung main comot saja. Mereka menyediakan list/daftar menu yang sedang mereka hidangkan. Dan, untuk memudahkan, mereka juga memberi simbol di tiap menu. Seingat saya, ada simbol untuk vegetarian, vegan, eat well, dan sebagainya. Selain vegetarian, kalian butuh untuk bertanya apakah menu tersebut terbuat dari pork/babi atau tidak. Ingat! HARUS TANYA. Mereka tidak akan memperingatkan kalian (karena melihat kalian berjilbab, misal): I'm sorry, miss. This food is consist of pork. You're muslim, right? NEVER. Kalian yang bertanggungjawab atas diri kalian sendiri.


Sejak pertama menginjakkan kaki di dining hall ini, hidungku rasanya tidak bisa menangkap bau makanan satu pun, dalam artian tidak ada makanan yang menggoda untuk disantap. Bau mereka semua sama, sama-sama asing dan aku tidak yakin untuk memakannya. Padahal dalam keadaan aku yangsedang berpuasa, seharusnya aku ingin makan apa saja. Tapi kali ini, aku seolah enggan mau makan yang mana. Mereka semua tidak enak, pikirku waktu itu. Hingga akhirnya aku hanya mengambil beberapa buah, kentang, ayam (saat itu aku masih saja makan ayam karena aku pikir selama tidak pork, tidak masalah). Dan pada 2 pekan setelahnya, aku bertanya pada seorang teman di Indonesia dan dia mengingatkan bahwa ayam pun bisa jadi najis dimakan, karena tidak tahu memotongnya menyebut lafadz Allah atau tidak. Jadilah saya vegetarian, mulai dari pekan kedua sampai pekan kedelapan. 


Setiap istirahat, antara jam 12 siang sampai jam setengah tiga sore, saya pergi ke ruang Learning Research Center (LRC) yang berada di gedung tempat kelas-kelasku berada. Disana, aku meminjam laptop. Untuk mengerjakan tugas-tugas? Yeah, sometimes. Tapi seringnya, kugunakan untuk browsing. Browsing apa? Gambar makanan Indonesia seperti rawon, soto, bakso, lontong balap, mie ayam, masakan Padang, dan banyak lagi. Sering bikin aku ngiler, dan untuk mengatasinya ku keluarkan bekal makan siangku: apel, permen cokelat, snack, dan kadang wafer. Tidak kenyang memang, tapi cukup untuk mengganjal perut sambil menanti datangnya saat dinner setelah kelas terakhir sekitar jam 5 sore. Karena saat dinner, aku bisa menyantap mie di salah satu dining hall (dining hall tersebar di beberapa tempat di area kampus). Bukan sembarang mie, tapi Mongolian Grill. Enak sekali, hihihi karena ini satu-satunya yang cocok dengan lidah Indonesiaku. Dan aku juga bisa memesan mie yang aku makan dimasak dengan cara vegetarian yaitu tidak dicampur dengan mie pesanan yang lainnya dan lauknya pun akan menyesuaikan. Kadang ada tahu, ada tempe. Bentar, tempe? Yap! Ada tempe disana, tapi mereka menulisnya pakai akhiran "h" jadi tempeh. Kalau orang Jawa macam saya yang baca, tempeh artinya benda dari anyaman bambu yang biasa digunakan untuk memisahkan beras dengan gabah. hahaha

Sepulang dari sana, aku cek berat badanku eh ternyata tetap seperti sebelum berangkat. Tidak ada pertambahan maupun pengurangan. Tapi...setelah 3 minggu di Indonesia. WOW! Naik drastis sampai 4 kilogram! Bener-bener masakan Indonesia ini nggak bisa terelakkan kelezatannya. :D

0 komentar:

Posting Komentar