Pages

Minggu, 30 Januari 2011

sholat tepat waktu

Alhamdulillah.. ku ucap syukur padaMu Ya Rahman..
Dalam kesyukuran, masih diberi kesempatan olehNya, untuk memperbaiki diri, senantiasa mendekati ridhoNya. Alhamdulillah, sekali lagi diri ini bersyukur. Bahkan, tidaklah cukup semua waktu sepanjang hidup ini untuk bersyukur mengingat begitu sayangnya Dia pada kita.
***
Oleh-oleh dari rihlah ke Yogyakarta. Menginjak waktu sholat maghrib, kami berhenti di sebuah masjid di jalan Brigjen Katamso. Bingung mencari dimana tempat wudhu wanita (yang ternyata tempat wudhu pria dan wanita digabung lantaran tidak adanya lahan lagi untuk tempat wudhu), kemudian saya putuskan menunggu saja di tempat sholat wanita. Tempat wudhu masih penuh dengan bapak-bapak yang sama halnya dengan saya, ketinggalan sholat jama’ah. Sang Imam masjid sudah mengucapkan salam tanda berakhirnya sholat beberapa saat yang lalu.
Tempat sholat wanita hanya sepetak saja, dihijab dengan kain putih berenda-renda selutut saya. Dari sudut hijab, di shof paling belakang jama’ah laki-laki, saya melihat sebuah pemandangan yang membuat saya tertegun beberapa saat. Awalnya hanya melihat sepintas, aneh saja melihat anak muda dengan dandanan ala penyanyi band di dalam masjid. Rambut yang diluruskan, diwarnai kuning agak cokelat diujungnya, kaos masa kini, celana jeans model pensil lengkap dengan sabuk hitam masa kini. Butuh waktu untuk mengamatinya, sampai-sampai pemuda itu merasa ada yang memperhatikannya dan beberapa kali memandang saya heran seolah berkata “ngapain liat-liat”.
Tidak hanya dandanan nyentriknya yang membuat saya memandangnya terus-terusan, tapi apa yang sedang dia kerjakan yang membuat saya tertegun heran. Dia berjongkok sambil melipat sebuah baju. Baju koko warna biru laut. Saya merasa baju koko itu baru saja dia pakai sholat maghrib berjama’ah. Dengan begitu hati-hati dia melipatnya. Dengan hati-hati pula dia masukkan baju koko itu ke tas yang terletak tak jauh darinya. Di tas yang bertuliskan “punk not dead” itu dia masukkan baju kokonya. Dia mengeluarkan kacamata dari tas itu, memakainya, dan memakai tas “punk not dead”nya. Dari balik badannya dia keluarkan gitar kecil khas pengamen jalanan. Sambil terus memandang dia sampai keluar masjid, dia mulai bersenandung lirih sambil meng-genjreng senar gitarnya. Semoga ridhoNya senantiasa bersamamu, Mas “punk not dead”. (amin)
***
Ah..hidup. tahukah, kawan?. Betapa benar sekali jika ada yang berujar “don’t judge the book by its cover”. Awal kali saya melihat pemuda tadi, bayangan di kepala saya adalah : dia pemuda berandalan, sukanya hura-hura, dan sebagainya. Tidak pernah terlintas di benak saya bahwa pemuda yang seperti itu adalah pemuda yang masih memegang teguh yang namanya sholat tepat waktu. Betapa sejuknya hati ini melihat pemuda jaman sekarang suka sholat tepat waktu. Hm..berarti, nggak cuma yang berdandan layaknya baju koko, celana kain saja dong yang demen sholat tepat waktu?. Alhamdulillah..oleh karena itu, kawan. Janganlah menilai seseorang hanyalah dari luarnya saja. 

1 komentar:

huda-quincy mengatakan...

Penilaian manusia memang banyak salahnya. Makanya kalo dosen ngasih nilai cuekin aja.. coz paling2 penialaianx salah... hihhi.. pelarian stelah UAS

Posting Komentar