Pages

Minggu, 01 Januari 2012

My Dream Come True


"bermimpilah.. maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu.."


menangis sambil tertawa atau sebaliknya, tertawa sambil menangis. pernahkah mengalaminya? baru-baru ini saya mengalaminya..

Malang, 29 Desember 2011 pukul 13.15 WIB
masih terasa betul badan ini bergetar karena tidak sahur tadi pagi dan sedikit memaksakan diri untuk berpuasa sunnah. tugas hari itu cukup menguras tenaga : membuat resume mata kuliah Pengantar Model Linier dari awal-akhir perkuliahan. praktis membuat telapak tangan saya merah-merah, jari-jari tangan kaku. sebelumnya aku memutuskan untuk ikut ke kost Dinda, sembari menunggu datangnya jadwal kuliah jam 14.50. 

setelah sholat dhuhur, saya kembali menyelesaikan resume tersebut. kurang banyak, ternyata. lengkaplah sudah kemuraman hari ini. entah mengapa, sejak kemarin hati saya gelisah tidak karuan. setiap sholat pun rasanya ingin menitikkan air mata entah apa sebabnya. berangkat tidur pun juga menangis, karena masih dalam ketidakpastian. sungguh, ketidakpastian itu sangat menyiksa. sekitar pukul 14.20 Dinda bilang kalau dia ingin ke luar sebentar untuk print tugas. dia juga mengunci pintu kost, dan aku sendirian di kamarnya. termenung lagi, menghela nafas berat dan panjang serta raut wajah yang masih muram. inilah tanda-tanda orang yang tidak bahagia, pikirku.
pukul 14:39, tepat ketika aku membereskan kertas tugas yang berserakan, merapikan alat tulis dan siap berangkat kuliah, HP Samsung Champ saya berdering. segera saya keluarkan HP dari tas, dan melihat sebaris nomor tidak dikenal dan berkode area Jakarta. 
subhanallah!
saya langsung tekan tombol accept dan secepatnya memanjat ranjang paling atas (*ranjangnya tingkat dua) karena signal di kamar Dinda terkenal buruk. sekian lama tidak ada sahutan, hanya suara saya yang Halo Halo berkali-kali. beberapa saat kemudian terdengar suara perempuan muda, 
"halo..halo..?"
"iya, halo?
"bisa keluar sebentar? signalnya buruk, saya tidak bisa mendengar suara anda." terang perempuan muda tadi
segera saya turun dan ke atas, ke lantai dua, mencari signal sambil tetap halo halo.
"halo?" ucap saya untuk yang ke sekian kalinya

"iya, halo? nah ini sudah kedengaran suara kamu. "
"iya, ini siapa?" tanya ku dengan pikiran yang kosong entah kemana

"jadi begini, saya Vera dari IIEF..."

deg!
"ini, dengan Sofyani Wulansari betul?"

"iya mbak, saya Sofyani Wulansari."
"sofyani, kalau saya boleh tahu graduation plan kamu kpn?"
"itu, mbak.. ehm, pertengahan 2013 sekitar bulan Juli-Agustus.." sambil mengatur nafas.
"oh, jadi sekarang semester 5?"
"iya, mbak."
"ehm, kamu pernah mendaftar IELSP?"
"iya mbak, benar"

"kalau begitu, saya ucapkan selamat ya. congratulation!. karena kamu terpilih sebagai grantee IELSP cohort X"
"iya, mbak....??" seketika air mata jatuh, dan ketika membalikkan badan, sudah ada Maulida sahabat saya lainnya yang berdiri mematung sambil menutup mulutnya yang terbuka.

hanya ada isakan haru beberapa saat kemudian, saya segera menghambur ke kamarnya Maulida. terduduk. terisak.
"ehm, kamu ada kertas dan bolpoin?" tanya mbak Vera
hanya ada isakan. 
"ehm? halo? kamu menangis?" mbak Vera merasa terabaikan cukup lama.
"eh...iya mbak, maaf tapi saya senang sekali. alhamdulillah..." tetap dengan backsound tangisan
"kamu tenang dulu, kalau udah tenang baru kita lanjutkan ngomong lagi"
"eh iya mbak, ini sudah tenang" masih menangis, menatap Maulida, sedangkan Rani (sahabat saya yang lainnya lagi yang juga kost disitu) baru datang. 
"ada apa ini? mbak Sofy keterima???" tanya Rani penasaran. Maulida hanya mengangguk dengan raut senang campur haru yang tidak kunjung hilang dari wajahnya sedari tadi. Rani juga ikut senang, sama hal nya dengan Maulida.
segera Maulida menyerahkan kertas dan bolpoin.
"oke, dicatat ya. jadi kamu akan berangkat tanggal 18 Agustus 2012, dengan tujuan Virginia Tech University. kamu harus bikin paspor secepatnya, tanggal 9 Januari paspor harus sudah jadi dan kamu scan kemudian kamu kirim ke email kami."
"untuk pembuatan paspor, kamu harus membawa : KK, Akta, Ijazah SMA, KTP, KTM, dan surat rekomendasi dari IIEF yang akan kami kirimkan ke email kamu. itu kamu print, kemudian kamu gunakan untuk kelengkapan pembuatan paspor" jelas mbak Vera panjang lebar.
"iya, mbak. ehm maaf mbak, tadi namanya siapa? saya tadi kurang ingat mbak, maaf mbak."
"oh ya, saya Vera dari IIEF. bisa kamu ulangi lagi apa yang saya beritahu tadi?"
"iya mbak, jadi saya akan berangka tanggal ...... (bla bla bla)" 

"ya, oke. bagaimana? ada yang kamu ingin tanyakan?"
"belum, mbak Vera...belum,"
dan bisa ditebak, setelah telpon dari Jakarta tadi ditutup, saya dan dua sahabat saya histeris. Dinda yang baru pulang dari print tugas terheran-heran dan shock begitu tahu saya lolos beasiswa ini. Dinda adalah sahabat saya yang paling banyak porsinya dalam membantu saya baik moril maupun jasa. 

setelah-setelahnya masih sama kondisinya, tidak percaya, takjub campur syukur dan terharu.. (*maklum kami perempuan). 
sebelumnya, 28 Desember 2011, sudah banyak kawan dari daerah lain yang menerima telepon dan dinyatakan lolos. mereka-mereka yang lolos sudah ramai memberitakan berita bahagia mereka di grup IIEF IELSP di facebook. kontan saya iri bukan main, jengkel karena belum juga di telepon. saat malam hari menjelang 29 Desember 2011, saya sudah putus harapan (baca : pasrah), sembari terisak saya mengucapkan : "Ya Allah, apa maksud dari semua ini?"

ternyata ketika benar-benar diuji dalam titik terendah, ketika sudah tidak memperhitungkan logika, ketika hati sudah tertutup nafsu egois, ketika itu pula hati mencoba untuk bernego. mencoba untuk mengajak diri ini sabar. yah. sabar dan tetap berusaha. sabar dan berjanji tidak akan ada yang berubah dalam hal ibadah hanya karena tidak lolos beasiswa. Allah Maha Tahu, Dia Maha menentukan segalanya..
subhanallah. sungguh, tidak ada rencana yang paling indah. hanya rencanaNya. hanya Dia.. ^^


2 komentar:

Agung SP mengatakan...

tes pas wawancara kok gak diceritain sih mbak??

Sofyani Wulansari mengatakan...

ada di tulisan selanjutnya, :)

Posting Komentar