Pages

Selasa, 03 Januari 2012

Behind the Story of IELSP Scholarship (Part#1)


“Apa yang kamu fikirkan, itu yang akan kamu kerjakan. Jika kamu tidak memikirkan apa-apa, maka tidak ada juga yang kamu akan kerjakan. Allah hanya akan memberimu, jika kamu berusaha mengambilnya. Believe me, It’s written...”
Jika ada yang mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita fikirkan, you are what you think. Percayakah kalian jika kalimat ini benar adanya? Disini saya akan membagi sedikit pengalaman saya ketika mengikuti program beasiswa IELSP (Indonesian English Language Study Program) yang dilaksanakan oleh IIEF (The International Indonesian English Foundation) dengan U.S Embassy sebagai sponsor utamanya.
Semua berawal ketika saya secara tidak sengaja membaca pamphlet mengenai program beasiswa ini di sudut mading jurusan Matematika UB. Pamphlet yang cukup menarik perhatian saya waktu itu, karena ukurannya cukup besar, terdapat beberapa gambar-gambar luar negeri (FYI: saya selalu tertarik dengan luar negeri utamanya negara-negara berbahasa Inggris), dan yang penting semua tulisan di pamphlet menggunakan bahasa Inggris. Saya baca seksama, apa sebenarnya program ini, kriteria pendaftar, serta deadline application nya. Seketika saya keluarkan buku saku warna kuning saya, secara cepat saya catat apa saja yang ada di pamphlet tersebut.  
Sesampainya di rumah kontrakan saya buka website IIEF, dan masuk ke program IELSP. Disitu terdapat file pendaftaran yang bisa diunduh. Setelah saya unduh, saya perhatikan baik-baik 10 halaman application tersebut. Segera saya cetak, supaya mudah mempelajarinya. Halaman pertama berisi tata cara pengisian formulir pendaftaran dan dokumen-dokumen apa saja yang harus dipenuhi. Sekilas mudah, tapi…. Eits, ada 4 kolom essay di formulir ini : personality life and family, personal statements, pressing issues in this country, and the last is long term career aspiration. Dan semuanya harus diisi dengan bahasa inggris (*yaiyalah, kan namanya juga program beasiswa ke luar negeri hehe). Awalnya saya ragu, apa bisa saya mengisi halaman demi halaman formulir ini apalagi sebentar lagi ada ujian tengah semester. Tapi jantung ini berdegup tiap kali membaca ulang formulir, saya merasa tidak akan ada kesempatan kedua seperti ini. Lagipula, apa yang sudah saya cita-citakan semenjak dahulu : ke luar negeri, menjadi lebih dekat dengan adanya program beasiswa ini.
Bismillah!
Saya coba, apapun yang harus saya lakukan demi memenuhi persyaratan pendaftaran akan saya lakukan. Pertama-tama sebelum mengisi formulir, saya memilih untuk mempersiapkan semua dokumen pelengkap. Diantaranya adalah : memiliki sertifikat TOEFL ITP/International. Apa itu TOEFL ITP/International saya sendiri tidak tahu. Beruntungnya saya, di kontrakan banyak yang dari sastra Inggris, dan dari mereka juga saya tahu dimana saya bisa melakukan tes TOEFL tersebut. Akhirnya saya ke gedung pusat bahasa sebelah FIB, karena menurut info yang saya peroleh kita bisa melakukan tes TOEFL ITP disana. Biaya tes nya sekitar 300 ribu rupiah, nominal yang cukup besar bagi saya. Mendapatkan sejumlah uang ini pun memiliki kisah tersendiri. Awalnya ibu melarang saya mengikuti program-program beasiswa seperti ini karena memerlukan biaya yang cukup besar untuk sekedar mendaftar, dan jika nanti dinyatakan lolos harus rela meninggalkan kuliah di tanah air selama 8 pekan untuk belajar bahasa Inggris di beberapa universitas di Amerika sekaligus pertukaran budaya. Tidak mungkin juga saya tetap maju mendaftar tanpa restu ibu, akhirnya saya urungkan niat saya mendaftar dan saya utarakan ini ke adek saya sebelum saya kembali ke Malang : “ mbak gak sido melu beasiswa nang amerika iki, nul. Gak oleh ibu kok (translet : mbak nggk jadi ikut beasiswa ini, nul. Nggak dibolehin ibu kok)”. Sehari setelah saya kembali lagi ke Malang, ibu menelpon dan tiba-tiba menyuruh saya segera mendaftar. “ndang melok’o nduk, gak lapo-lapo. Ibu dukung,(cepat ikut nduk, nggak apa-apa. Ibu dukung) “. Aneh tapi nyata. Dari awalnya gigih mencegah, sekarang kok malah mendukung. Sampai sekarangpun saya masih belum jelas alasannya, hhe. Dan uang 300 ribu sendiri berasal dari laba yang saya peroleh dari sapi saya. Yah, uang saya tidak saya tabung di bank melainkan saya wujudkan jadi ½ sapi, saya dan kakak patungan untuk beli 1 sapi dan setelah setahun masing-masing dari kami memperoleh sekitar 1 juta rupiah sebagai labanya.
Sebenarnya saya sangat sayang dengan uang itu, ketika di depan loket pendaftaran tes TOEFL ITP pun, saya masih sangat berat menyerahkan uang tersebut ke petugas. “saya masih bisa mundur sekarang kalau saya mau” pikir saya waktu itu. Tapi entah mengapa, kaki rasanya melangkah sendiri hingga akhirnya saya mendaftar juga. Jadwal tes TOEFL ITP adalah bertepatan dengan jadwal pembekalan KKN saya, namun waktunya lebih dahulu tes TOEFL jadi saya rencanakan setelah tes TOEFL saya langsung ke tempat pembekalan. Ternyata oh ternyata saya salah. Tes TOEFL baru berakhir setelah pembekalan KKN berlangsung hampir 1.5 jam dari total 2.5 jam. Tergesa-gesa berlari ke gedung pembekalan KKN, dan saya mendapat banyak kritikan pedas di meja resepsionis. Dimarah-marahi staf akademik, yah saya terima karena saya salah. Akhirnya saya boleh duduk namun saya belum sholat dhuhur. Saya pun kembali ke meja resepsionis, meminta ijin sholat dhuhur karena waktu ashar semakin dekat. Bukannya diijinkan dengan sukacita, malahan saya disuruh duduk lagi atau tidak apa-apa sholat dengan resiko nama saya dicoret dan dianggap tidak masuk pembekalan saat itu. Karena diapa-apakan saya yang salah, kenapa tidak ijin dulu jika mau tes TOEFL, kenapa tidak sholat dulu, dst. Saya marah karena merasa diperlakukan tidak adil. Saya tetap sholat, dengan mata berkaca-kaca menahan marah. Alhamdulillah Allah mempermudah, saya tidak jadi dicoret dari daftar absen. ^^ (*tuh kaaan bu/pak… Eh, maaf hhe)

To be continue… ^_^

3 komentar:

arsyad iriansyah mengatakan...

mbak, saya menyimak.
smoga bisa menjadi seperti mbak

Anonim mengatakan...

siapa tuh yang ngelarang sholat..? tapi, tetap introspeksi ya..

duniasofy mengatakan...

arsyad@ iya amin, semua berawal dari niat dan keinginan kuat untuk meraihnya. semoga km sukses, ^^
pak Dar@ iya pak, diapa-apakan posisi sy di pihak yg salah. hhe,

Posting Komentar